Rabu, 25 April 2012

Sesuap Nasi Untuk Emak


(Sedang proses editing untuk di terbitkan. semoga lolos aminnn )
SESUAP NASI UNTUK EMAK
Suasana di pasar pagi ini sangat penuh sesak, pedagang-pedagang pun mulai sibuk melayani para ibu-ibu rumah tangga ataupun para pekerja rumah tangga. Anak-anak yang putus sekolah pun mulai menjajakan plastik untuk menawarkan jasa mengangkut belanja , ataupun anak-anak yang menjadi kuli panggul. Keadaan seperti ini sudah sering terjadi di pasar. Dan Parjo sudah terbiasa dengan keadaan ini, dia salah satu anak yang  mencari makan di pasar.
“Kantong, kantong, kantong... kantong  bu?” suara Parjo menjajakan daganganya dengan suara khasnya. Tiap pagi dia selalu  ikut di dalam suasana yang tidak pernah sepi. Selesai kantong plastiknya terjual habis dia beralih ke depan ruko-ruko sembako berharap ada beras yang jatuh, yang bisa di kumpulkan menjadi segumpulan beras dan dia bisa bawa pulang.
“Tong, mau gue kasih beras ga?” panggil engkong haji yang memiliki ruko beras yang biasa Parjo punguti
“Ah, mau kong!” dengan sigap Parjo pun menjawab
“Nah, sebelumnya lo bantuin gue rapihin karungn beras, lo lipet dan lo iket ya?”
“Baik kong” kata parjo dan dengan sigap dia langsung mengerjakan.
Dengan pakaian yang sangat lusuh dan berpeluh keringat dia kerjakan, tak peduli berapa imbalan yang dia dapat. Mendapatkan beras untuk di masak saja sudah lebih dari cukup untuknya. Parjo anak yatim, dia mempunyai adik perempuan yang masih berumur 4 tahun. Ibunya pun sakit-sakitan.
“Nih” kata engkong memberikan satu plastik kecil beras.
“Makasih ya kong?” Parjo pun sangat gembira, matanya pun berkaca-kaca.
“Alhamdulillah hari ini, mumpung ada uang lebih aku mau beli jengkol ah buat emak” kata Parjo dengan gembira. Saat dalam perjalanan pulang terdengar kumandang Adzan dari jauh, langsung Parjo berjalan ke masjid terdekat. Parjo memang anak yg soleh. Saat dia sholat, semua barangnya ia letakkan di belakang dia, namun setelah dia selesai sholat betapa kagetnya dia melihat makananya yang dia beli termasuk beras hilang.
“Ya Allah, siapa yang tega berbuat ini padaku??bagaimana emak dan iin di rumah?” Parjo pun lemas dalam langkahnya pulang. Apa yang harus ku katakan.
“Abang ajo pulang makkkkk” teriak si iin kecil
“Wah anak emak udah pulang” sambut emak dengan senyum
“Mak, maafin ajo ya. Ajo ga bawa apa-apa”
“Ga laku ya jo plastik mu?” tanya emak. Parjo pun hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk emak
“Tadi Ajo udah bawa satu plastik kecil beras dan sebungkus jengkol buat emak tapi....” kata Parjo sambil terisak
“Tapi kenapa jo, ayo ngomong sama emak”
“Pas Ajo sholat di masjid, Ajo taro ntu makanan di belakang Ajo mak. ..,teeetereus pas udaaa se..le..sai.iii u..dah ga ada....” kata Parjo sambil terisak
“Parjo sayang, udah ga usah nangis. Berarti belum rezeki. Kamu tenang masih ada singkong rebus kok. Kita makan itu lagi aja ya?” kata emak sambikl memeluk dan mengusap kepala Parjo.
Walaupun Parjo anak yang kuat dan sangat pekerja keras, tetap saja dia hanya seorang anak yang masih berumur 10 tahun.
“Iya abang ajo.. iin aja nda nanisssss. Abang uga donggg” kata iin dengan cadelnya.
Dan malam pun berlalu, keesokanya Parjo kembali bekerja. Namun hari ini sepertinya keberuntungan tidak ada pada Parjo. Daganganya tidak habis. Hanya laku dua yang berarti hanya tiga ribu pendapatanya. Parjo duduk di sudut pasar sambil memegangi perutnya yang sakit karena sangat lapar. Jelas saja dia hanya memakan satu potongan singkong rebus. Sambil berjalan dengan gontai dia pun menyusuri ruko-ruko pasar, dia punguti beras yang berjatuhan. Dia pilihi sayuran yang masih layak makan namun di buang oleh para pedagang.
“Mak ini , Cuma segini Parjo dapetnya”
“Iya ga apa-apa jo” kata emak sambil mengambil pemberian Parjo. Hari itu tampak berbeda, emak sepetinya penyakitnya kambuh. Sudah hampir dua tahun setelah abah meninggal, emak sakit-sakitan. Emak sakit karena dulu menjadi buruh cuci dan pembantu harian. Emak kecapean sehingga dia terpeleset di kamar mandi, lalu tidak kuat untuk bangun lama-lama. Keseharian emak juga hanya memasak dan kembali tergeletak, sisanya Parjo yang mengerjakan.
“Mak, emak sakit?”
“Ga jo” kata emak sambil tersenyum
“Ah abang, emak tadi tuh pegangin peyutt teyuss, iin juga bang peyut iin lapellll” sambar iin
Astaga, kalau perutku saja tadi sakit gimana dengan emak dan iin?? gumam Parjo di hati.
Aku harus bisa besok bawain lebih dari hari ini untuk emak, gumamnya dalam hati.
Esoknya pagi sangat ceraah, bahkan terik. Lagi, keberuntungan juga tidak menghampiri Parjo. Bahkan sama sekali tidak menghampiri. Tidak sepeserpun dia dapat hari ini.
“Emak, iin, ajo harus gimana?” isak Parjo yang lagi-lagi sifat anak kecilnya keluar. Dia kembali menyelusuri ruko, namun anak lain sudah terlebih dahulu mengambil sisa beras yang jatuh. Kembali dia selusuri tumpukkan sayuran, namun semua sudah busuk tak layak makan. Dengan menunduk dia pulang.
“Assalamualaikum” Parjo menguca salam dengan lemas.
Namun tidak ada yang menjawab, hanya terdengar tangisan si kecil Iin
“Abangggg emak baaadannnnyaa pa..pa...nas......emak dali tadi bobo teyusss” isak Iin
“Ya ampun emakk..” Parjo pun langsung memeriksa emak
“abang.. iinn laperrrr” Iin pun menangis. Parjo pun memeluk adiknya, dia semakin sedih karena dia juga tidak membawa apa-apa hari ini.
“De jagain emak ya, abang cari makan dan obat dulu” Parjo pun berdiri dan berlari ke pasar mencari-cari makanan sisa untuk di bawa pulang, namun karena hari sudah gelap dia tidak menemukan apapun. Lalu dia berlari ke lampu merah, dengan tangan kosong dia beranikan diri untuk mengamen.
“Heh lo jangan ngamen dimari tong! Ini wilayah gue” kata Ibu-ibu yang berpakaian lusuh dengan menggendong bayi. Lalu Parjo pun kembali pergi dari situ.
“emak, tunggu ajo ya!” kata ajo sambil menghapus airmatanya.
Dia kembali mengamen di lampu merah lain.Berjam-jam dia mencari tempat karena banyak preman dan penguasaan setiap wilayah.Lalu akhirnya dia mendapat uang, walaupun hanya lima ribu. Dia berjalan menyusuri warteg dan membeli makanan untuk emak dan iin. Sepertinya pemilik warteg iba melihat Parjo, anak yang baru berusia 10 tahun masih mencari uang sampai pukul sepuluh malam
“Dik, kamu kenapa malam-malam masih berkeliaran?” tanya pemilik warteg
“Akuu lagi cari nasi buat emak sama Iin, emak sakit bu belum makan. Boleh aku beli nasi dua ribu dan kuah saja bu?”
“Ibumu sakit?” pemilik warteg pun bertanya lagi sambil membungkus nasi untuk Parjo
“Iya bu, bu jangan pakai apa-apa. Kuah saja” Parjo pun takut uangnya tidak cukup bila memakai lauk.
“Ndak apa-apa dik ini” sambil menyerahkan dua bungkus nasi dan lauk lengkap
“ini bu uangnya”
“Eh ga usah ambil aja, oya ini satu lagi” kata pemilik warteg sambil memberi uang selembar uang sepuluh ribuan
“Maksih bu” Parjo pun lansung mencium tangan ibu itu, dia sangat senang dan langsung berlari pulang dan tidak lupa dia membeli obat. Dengan tergesa-gesa dia berlari pulang. Namun sesampainya di rumah dia kaget, rumahya ramai. Lalu seorang Ibu tua menghampirinya
“Ajo yang kuat ya sayang”. Parjo pun langsung masuk ke dalam, dan dia menemukan ibunya telah terbujur kaku.
“Emakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk” suasana pecah karena teriakan Parjo nasi bungkus dan obat yang dia bawa jatuh berantakan.
“Emakkkkkkk ini ajo pulang bawa nasi untuk emak dan iinnn . Emakkk bangunnnnnnnnnn, ajo nanti sama siapa?????????????? “ teriak Parjo sambil menggoyahkan tubuh ibunya yang sudah kaku
“Mak satu suap saja makkkkk, ajo minta maaf makkkkkk. Ajo kelamaan cari makananyaaaaa. Ini ajoo udah beli obat juga mak.” Parjo pun tidak percaya ibunya telah tiada,dia hanya menangis sambil memegang sesuap nasi yang dia bawa tadi untuk di suapkan untuk ibunya. Namun apa daya takdir berkata lain, ibunya tidak sempat menikmati nasi bungkus yanng dibawa bocah kecil itu.
“Abangggggg” panggil iin yang juga menangis. Mereka pun berpelukkan. Mereka sekarang anak yatim piatu, Parjo yang masih berumur 10 tahun dengan iin yang baru 4 tahun harus bisa menjalani hidupnya tanpa ayah dan ibunya.


Tidak ada komentar: